AdaApa
Categories
Berita Terkini

Mahasiswa Palembang Tunggu Herman Deru, Gubernur Sumsel Tiba di Jakarta

Oleh Arif Sutoro • 7 Oktober 2026 • 3 menit baca
Mahasiswa Palembang Tunggu Herman Deru, Gubernur Sumsel Tiba di Jakarta

Mahasiswa Palembang menunggu Herman Deru, Gubernur Sumsel, namun ia berada di Jakarta. Demonstran menuntut transparansi dan langkah konkret penanganan k...

AdaApa – 07 Oktober 2026 | Pada 6 Oktober 2026, mahasiswa dari 15 perguruan tinggi berkumpul di kantor Gubernur Sumatera Selatan di Palembang, menunggu Herman Deru yang ternyata berada di Jakarta. Mereka datang sejak pukul 14.00 WIB dan tetap menunggu meski tidak ada yang muncul.

Aksi Mahasiswa di Palembang

Koordinator aksi Universitas Indo Global Mandiri, Johan, mengungkapkan bahwa mahasiswa sengaja turun untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Ia mengatakan, “Kami bersama kawan-kawan 15 kampus sepakat untuk turun hari ini, ingin menyampaikan langsung kepada Bapak Herman Deru. Cuma sangat disayangkan Bapak Herman Deru hari ini berada di Jakarta.”

Johan juga menilai kehadiran Wakil Gubernur Sumsel tidak di Palembang turut menambah kekecewaan. Ia menambahkan, “Kami dari kawan-kawan BEM seluruh Sumatera Selatan agak sedikit kecewa. Karena memang kami datang dari jam 2, tapi memang tidak ada dari tadi.”

Selama menunggu, mahasiswa menilai upaya pemerintah dalam menangani karhutla belum maksimal. Johan menyatakan, “Kami tetap menunggu sampai Herman Deru datang ke sini, karena kami butuh sosok pemimpin.” Ia juga menegaskan, “Kami menyerahkan sepenuhnya kepada hukum, tapi kami harap jangan sampai pihak kepolisian bertindak represif terhadap kawan kami.”

Tuntutan dan Aspirasi Mahasiswa

Mahasiswa menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum tertangani secara maksimal, sehingga kabut asap mengganggu kesehatan warga. Mereka meminta transparansi penggunaan anggaran dan bantuan pusat, seperti kendaraan operasional dan sumur bor. Johan menegaskan, “Kami dari kawan-kawan mahasiswa ingin transparansi juga salah satunya. Kalau memang ini menjadi PR yang memang besar, apa kabar dengan sebelum-sebelumnya?”

Mahasiswa juga menuntut langkah konkret dari pemerintah:

  • Menetapkan rencana penanganan karhutla yang jelas, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
  • Memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat terdampak kabut asap.
  • Menjelaskan penggunaan anggaran dan bantuan pusat secara transparan.
  • Menetapkan kebijakan pencegahan kebakaran hutan yang lebih tegas.
  • Menjamin partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait lingkungan.

Tanggapan Pemerintah

Ketidakhadiran Herman Deru membuat Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sumsel, Apriyadi Mahmud, turun ke lokasi untuk bertemu para demonstran. Ia menerima lembar tuntutan dan membacakan beberapa poin di hadapan massa. Apriyadi menyatakan, “Maka saya Apriyadi Mahmud, selaku Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Selatan, bersedia diberhentikan oleh Gubernur Sumatera Selatan.”

Apriyadi menyampaikan bahwa Gubernur tengah sibuk dengan agenda lain. Ia menegaskan, “Ya, Pak Gubernur memang hari ini ada kegiatan lain, bukan tidak mau menemui aksi massa demo. Kemarin dia menemui.” Ia juga mengingatkan batasan perizinan demo, “Perizinan demo ada batasan, kawan-kawan aparat kepolisian bisa ambil tindakan.”

Mahasiswa yang hadir mewakili sejumlah institusi, antara lain Universitas Muhammadiyah Palembang, Akamigas, Universitas Katolik Musi Charitas, Politeknik Negeri Sriwijaya, Universitas Sriwijaya, dan Universitas PGRI. Selain itu, aksi mereka didukung oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) serta Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM‑SI) cabang Sumatera Selatan.

Di tengah aksi, mahasiswa juga mengangkat isu mahasiswa yang menggunakan almamater Universitas Sriwijaya, yang kemudian dimediasi oleh pihak kepolisian. Mereka menyerahkan masalah tersebut kepada proses hukum dan berharap tidak ada tindakan represif.

Dengan demikian, aksi mahasiswa di Palembang menyoroti ketidakhadiran Herman Deru dan menuntut transparansi serta langkah konkret dalam penanganan karhutla dan kabut asap yang mengancam kesehatan masyarakat Sumatera Selatan.

Kesimpulannya, meski gubernur tidak hadir, demonstran tetap menegaskan aspirasi mereka, sementara pemerintah menanggapi dengan pernyataan kesiapan dan penjelasan agenda. Tuntutan mahasiswa menekankan perlunya kebijakan yang lebih tegas dan transparan dalam menangani isu lingkungan yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari warga.

Ditulis oleh Arif Sutoro
Share: WhatsApp Facebook X

Jadi yang pertama berkomentar

Scroll to Top