AdaApa
Categories
Internasional

Operasi Epic Fury Pecah: US Akui Kekurangan Amunisi dan Ratusan Kerugian Material

Oleh Arif Sutoro • 16 September 2026 • 2 menit baca
Operasi Epic Fury Pecah: US Akui Kekurangan Amunisi dan Ratusan Kerugian Material

Inspektur Jenderal Pentagon mengonfirmasi Operation Epic Fury menghabiskan US$33,4 miliar, termasuk US$22,3 miliar untuk amunisi, dan menimbulkan kekura...

AdaApa – 16 September 2026 | Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa operasi “Operation Epic Fury” melawan Iran menghabiskan total US$33,4 miliar (sekitar Rp590 triliun), termasuk US$22,3 miliar (sekitar Rp394 triliun) untuk amunisi, dan menimbulkan kekurangan persediaan strategis.

Rincian Biaya dan Dampak Kekurangan Amunisi

Laporan wajib pertama yang diserahkan ke Kongres mencakup periode 28 Februari hingga 30 Juni 2026. Laporan itu mencatat bahwa pemakaian amunisi dalam operasi itu menimbulkan defisit pada persediaan strategis sekaligus memperlihatkan kendala pada sektor industri dalam menyediakan amunisi kembali. Selain itu, hampir 80 % stok rudal pencegat THAAD dilaporkan telah dipakai, sementara pasokan rudal jarak jauh dan sistem pertahanan udara juga mengalami penurunan signifikan.

Kerugian Material Militer Amerika Serikat

Kerugian material yang dilaporkan meliputi:

Baca Juga: Duta Besar UEA Bahas Konservasi Komodo, Operasi Mata, dan Bantuan Medis di Indonesia

  • Empat pesawat tempur F‑35 hancur
  • Empat pesawat tempur F‑15 hancur
  • Satu pesawat F‑35 mengalami kerusakan
  • Tujuh pesawat tanker KC‑135 mengalami kerusakan
  • Tiga puluh unit drone MQ‑9 Reaper dinyatakan hancur

Pernyataan Presiden Donald Trump dan Upaya Produksi Senjata

Presiden Donald Trump berulang kali menolak kekhawatiran tentang kelangkaan amunisi, menyatakan persediaan “praktis tak terbatas”. Pada 14 September 2026 ia memposting di akun Truth Social: “AS sedang memproduksi lebih banyak senjata canggih dan unggul dibandingkan masa mana pun dalam sejarah kita.” Trump menambahkan bahwa pabrik pertahanan beroperasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan setiap perusahaan pertahanan membangun rata‑rata empat hingga lima fasilitas berskala besar baru. Fokus produksi mencakup sistem pertahanan Patriot, sistem THAAD, rudal Tomahawk, serta rudal standar lainnya yang diklaim tersedia dalam jumlah besar.

Dampak Operasi di Lapangan

Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa dalam 24 jam pertama perang lebih dari 1.000 target Iran diserang, namun dalam beberapa bulan berikutnya tidak ada serangan berskala besar lagi. Serangan balasan Iran merusak atau menghancurkan ratusan fasilitas militer Amerika yang terletak di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania. Kerusakan tersebut belum dimasukkan ke dalam estimasi total biaya Operation Epic Fury karena belum jelas siapa yang akan menanggung biaya rekonstruksi.

Laporan resmi dipublikasikan pada Senin, 14 September 2026, dan pernyataan Inspektur Jenderal disampaikan kepada publik pada Selasa, 15 September 2026. Pengakuan resmi ini menegaskan tantangan logistik dan produksi yang dihadapi militer Amerika Serikat di tengah konflik yang terus berlanjut.

Ditulis oleh Arif Sutoro
Share: WhatsApp Facebook X

Jadi yang pertama berkomentar

Scroll to Top