AdaApa – 06 Oktober 2026 | Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Indonesia melesat ke 52,4 pada September 2026, menandai keluar dari zona kontraksi di bawah 49,8 dan mencatatkan ekspansi tertinggi sejak Februari 2026.
PMI Manufaktur Indonesia Mengungguli Sebagian Besar Negara ASEAN
Data S&P Global yang dirilis 1 Oktober 2026 menunjukkan kenaikan signifikan PMI manufaktur Indonesia menjadi 52,4, mengalahkan Vietnam yang berada di 51,9 serta Malaysia dan Filipina yang masih berada di zona kontraksi. Thailand tetap memimpin pertumbuhan regional dengan PMI 54,3, naik dari 53,8 pada Agustus. Vietnam mengalami penurunan ke 51,9, terendah dalam tiga bulan terakhir setelah sebelumnya mencatat 53,3, dipicu melambatnya produksi dan gangguan logistik. Filipina mencatat PMI 49,6, turun tajam dari 54,9 pada bulan sebelumnya, sementara Malaysia berada di 49,9, menurun dari 50,2. Produsen di kawasan ASEAN melaporkan tekanan harga input masih tergolong sedang, namun kenaikan harga logam mentah dan fluktuasi biaya pengiriman internasional tetap menjadi tantangan utama. Lonjakan PMI Indonesia diproyeksikan memberi dorongan positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV 2026.
Peringkat FIFA ASEAN: Thailand di Puncak, Indonesia di Posisi 117
Data peringkat FIFA per 6 Oktober 2026 (belum resmi hingga semua pertandingan diakui sebagai “A” match) menempatkan Thailand pada posisi 93 dunia dengan 1.251,42 poin, menjadikannya tim ASEAN dengan peringkat tertinggi. Menurut data FIFA per 6 Oktober 2026, timnas Indonesia menempati peringkat ke‑117 dunia dengan total poin sebesar 1.166,50; dalam pertandingan yang sama, Garuda menambah 3,35 poin setelah hasil imbang 2‑2 melawan Thailand yang berlanjut ke adu penalti, sementara Thailand kehilangan 0,85 poin. Meskipun belum final, posisi Thailand tetap di atas Vietnam dan Malaysia dalam klasemen ASEAN.
Baca Juga: Buaya Raksasa Terburu-buru di Tengah Banjir Thailand: Dari Sanam Chai Khet Hingga Kuil Prachinburi
Harga BBM dan Avtur Indonesia Lebih Kompetitif di ASEAN
Joko Pranoto, yang menjabat sebagai Direktur Perencanaan serta Pertumbuhan Bisnis di Pertamina Patra Niaga, menyampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 bahwa secara umum harga BBM dan avtur di Indonesia masih berada di level yang lebih rendah dibandingkan dengan negara‑negara ASEAN. “Kalau perbandingannya memang secara keseluruhan relatif kita masih lebih murah daripada negara sekitar,” ujarnya.
Harga bensin RON 92 (setara Pertamax) ditetapkan Rp15.950 per liter, lebih rendah daripada Thailand (Rp21.213), Filipina (Rp25.014), dan Singapura (Rp48.514). Bensin RON 95 dijual Rp19.150 per liter, di bawah Malaysia (Rp19.822), Thailand (Rp21.412), Filipina (Rp25.288), serta Singapura (Rp48.795). Harga avtur di Indonesia tercatat Rp20.190 per liter, yang masih di bawah tarif yang diberlakukan di Vietnam (Rp20.619), Thailand (Rp33.377), Singapura (Rp44.202), dan Malaysia (Rp46.006). Diesel dijual Rp25.200 per liter, menempatkan Indonesia pada posisi ketiga termurah di antara negara‑negara ASEAN, dengan Vietnam menawarkan harga paling rendah.
Sebagai upaya memperluas penyediaan BBM berkualitas di daerah terpencil, Pertamina Patra Niaga telah mengoperasikan 212 unit stasiun pengisian bahan bakar modular (Pertashop) serta 211 SPBU dengan skema satu harga di wilayah Papua‑Maluku.
Berikut rangkuman harga utama BBM dan avtur di Indonesia dibandingkan negara ASEAN:
- Bensin RON 92 — Rp15.950 per liter
- Bensin RON 95 — Rp19.150 per liter
- Avtur — Rp20.190 per liter
- Diesel — Rp25.200 per liter
Dengan kinerja manufaktur yang kuat, posisi FIFA yang terus bersaing, serta kebijakan harga BBM yang tetap kompetitif, Indonesia menunjukkan peran penting di antara negara‑negara ASEAN pada 2026.