AdaApa
Categories
Internasional

Indonesia Target Top‑5 Ekonomi Dunia Sementara WTO Peringatkan Risiko Fragmentasi Perdagangan Global

Oleh siti rahayu • 18 September 2026 • 3 menit baca
Indonesia Target Top‑5 Ekonomi Dunia Sementara WTO Peringatkan Risiko Fragmentasi Perdagangan Global

Investasi Rp 1.010 triliun dan inflasi 2,92% dorong Indonesia ke target top‑5 ekonomi dunia, sementara WTO peringatkan risiko fragmentasi perdagangan gl...

AdaApa – 18 September 2026 | Investasi asing yang telah direalisasikan di Indonesia mencapai Rp 1.010 triliun hingga Juni 2026, menandakan aliran modal tetap kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Optimisme Presiden Prabowo Subianto terhadap Peringkat Ekonomi Indonesia 2050

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang masuk dalam jajaran lima besar ekonomi dunia pada tahun 2050. Ia mengutip proyeksi Goldman Sachs yang menempatkan Indonesia berpotensi berada di peringkat ke‑empat, kelima, atau keenam. “Semua dunia yakin Indonesia akan menjadi ekonomi ke‑6, ke‑5, ke‑4 dunia pada tahun 2050,” ujarnya dalam program televisi.

Prabowo menyoroti beberapa indikator fundamental. Tingkat inflasi Indonesia tercatat 2,92 % – salah satu yang terendah di dunia. “Ekonomi kita bagus. Inflasi kita salah satu terendah di dunia. 2,92 persen,” katanya. Defisit anggaran Indonesia tetap berada di bawah 3 %, lebih baik dibandingkan Filipina (sekitar 6 %), India (4,6 %) dan Prancis (5,4 %). Ia menilai kondisi ini meningkatkan kepercayaan investor: “Jadi, semua orang percaya sama Indonesia. Makanya mereka mau datang ke Indonesia,” pungkasnya.

Baca Juga: Ketahui enam fakta menarik tentang Venezuela, mulai dari keanekaragaman alam, ekonomi minyak, hingga budaya unik yang jarang terungkap

Menurut data pemerintah, penciptaan lapangan kerja baru mencapai 2,7 juta pada 2025 dan tambahan sekitar 1,4 juta pada 2026. Prabowo menambahkan bahwa dalam beberapa pekan ke depan akan ada investasi dalam jumlah besar yang masuk ke Indonesia, yang diharapkan memperluas lapangan kerja dan memperkuat aktivitas ekonomi nasional.

WTO Peringatkan Titik Kritis Perdagangan Global dan Dampaknya pada Ekonomi Dunia

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengeluarkan peringatan bahwa sistem perdagangan global berada di titik kritis. Kepala Ekonom WTO, Rob Staiger, menyatakan bahwa jika sistem multilateral runtuh, “skenario kami menunjukkan biayanya akan besar.” Ia menambahkan, “Aturan‑aturan tersebut berada di bawah tekanan dan hal itu benar-benar memberikan dampak.”

WTO menilai fragmentasi perdagangan akan menekan pertumbuhan ekonomi, terutama bagi negara miskin dan berkembang. Model simulasi menunjukkan bahwa pada 2050, produk domestik bruto (PDB) global dapat turun 5,1 % dan ekspor dunia berkurang 18,6 % dibandingkan skenario tanpa fragmentasi. Dalam skenario terburuk, di mana kerja sama multilateral hancur dan digantikan jaringan perjanjian perdagangan bebas terpisah‑pisah, penurunan PDB global diproyeksikan mencapai 6,9 % dan ekspor hampir 27 %.

Sebaliknya, penguatan kerja sama multilateral dapat meningkatkan PDB global sebesar 2,9 % dan mendorong ekspor naik hampir 18 %. Negara‑negara kurang berkembang akan memperoleh manfaat terbesar dari penguatan kerja sama, namun mereka juga berisiko menanggung kerugian paling besar bila fragmentasi terjadi.

Baca Juga: Ed Sheeran Kehilangan 200.000+ Pengikut, Musisi Dunia Boikot Loop Tour Setelah Macklemore Dikeluarkan

WTO mencatat bahwa sekitar 72 % perdagangan barang dunia masih berlangsung berdasarkan ketentuan tarif most‑favoured‑nation (MFN), menurun dari sekitar 80 % pada 2022. Pada pertemuan tingkat menteri di Yaounde, Kamerun, pada Maret lalu, 166 anggota WTO gagal mencapai kesepakatan mengenai paket reformasi. Pembahasan kemudian dilanjutkan di Jenewa, mencakup mekanisme pengambilan keputusan, penyelesaian sengketa, serta tantangan yang muncul akibat subsidi dan intervensi pemerintah dalam perekonomian.

Ketegangan geopolitik, intervensi negara, digitalisasi perdagangan, dan kebijakan industri yang semakin kuat menjadi faktor utama yang menekan sistem perdagangan saat ini. WTO menekankan bahwa tanpa kerangka kerja multilateral yang kuat, perjanjian perdagangan dapat beralih ke jaringan blok‑blok terpisah yang mengalihkan arus perdagangan hanya kepada mitra tertentu, bukan produsen paling efisien.

Dengan Indonesia yang menargetkan posisi teratas dalam peta ekonomi dunia dan WTO yang memperingatkan bahaya fragmentasi perdagangan, kedua narasi ini menyoroti pentingnya kebijakan yang mendukung stabilitas makroekonomi serta kerja sama internasional yang kuat untuk menjaga pertumbuhan global.

Ditulis oleh siti rahayu
Share: WhatsApp Facebook X

Jadi yang pertama berkomentar

Scroll to Top