Freeport menargetkan produksi emas mencapai 31 ton pada tahun depan sebagai upaya memperkuat posisi perusahaan di pasar global. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama PTFI, Tony Wenas, dalam rapat dengan Komisi XII DPR di Gedung DPR Jakarta pada Selasa, 15 September 2026. Rencana ini menandai langkah strategis perusahaan untuk menambah daya saingnya di industri pertambangan dunia, khususnya di sektor tembaga dan emas.
Proyeksi Produksi Tembaga dan Emas Menurut Tony Wenas
Menurut data yang disampaikan Tony, Freeport akan memproduksi 800 juta pound tembaga pada tahun 2026, setara dengan 21 ton emas. Namun, fokus utama perusahaan adalah peningkatan produksi emas yang signifikan pada tahun 2027, di mana targetnya mencapai 1 juta ounces atau setara 31 ton. Angka ini mencerminkan kenaikan tajam dibandingkan dengan tahun sebelumnya, sesuai dengan grafik yang ditampilkan oleh Tony.
Pengumuman tersebut juga menyinggung keberhasilan Block Caving Production Block 1 (Grasberg Block Caving) yang akan mulai beroperasi pada tahun 2027. Keterlibatan Block Caving ini diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi emas secara signifikan. Pada tahun 2028 dan seterusnya, proyeksi Freeport menunjukkan produksi emas mencapai 1,3 juta ounces, setara 39-40 ton, sementara produksi tembaga diperkirakan mencapai 1,6 miliar pound.
Reaksi Terhadap Insiden Longsoran Material Basah
Insiden longsoran material basah pada September 2025 menjadi titik balik penting bagi Freeport. Akibatnya, tingkat produksi tambang pada 2026 masih berada di bawah kapasitas normal. Tony menjelaskan bahwa pemulihan produksi ini menjadi bagian integral dari strategi perusahaan. Pada tahun 2028 dan seterusnya, tembaga akan dapat mencapai 1,6 miliar pound, sementara emas akan mencapai 1,3 juta ounces atau sekitar 39-40 ton. Kenaikan tingkat produksi ini sejalan dengan pemulihan GBC yang terkena longsor di tahun sebelumnya.
Target Produksi Bijih dan Kapasitas Operasional
PTFI memproyeksikan penambangan sekitar 124 ribu ton bijih per hari pada tahun ini. Angka tersebut hanya sekitar 65% dari kapasitas normal perusahaan, yang berada di kisaran 200 ribu ton bijih per hari. Rencana ini menandakan bahwa perusahaan sedang menyesuaikan operasi dengan kondisi pasca-insiden. Meskipun begitu, rencana peningkatan produksi emas menandakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk kembali ke performa puncak.
Dampak Ekonomi dan Strategis bagi Freeport
Peningkatan produksi emas dan tembaga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan perusahaan secara signifikan. Dengan target 31 ton emas pada tahun depan, Freeport akan menjadi salah satu produsen emas terbesar di dunia. Hal ini dapat menarik minat investor global serta memperkuat posisi perusahaan dalam perdagangan komoditas. Selain itu, peningkatan produksi tembaga akan membantu memenuhi permintaan industri, terutama dalam sektor energi terbarukan dan teknologi tinggi.
Strategi ini juga memiliki dampak positif bagi masyarakat lokal. Peningkatan produksi dapat membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan bagi komunitas sekitar. Selain itu, keberlanjutan operasional yang lebih baik dapat membantu mengurangi dampak lingkungan, karena perusahaan berusaha memaksimalkan efisiensi produksi dengan teknologi modern.
Kesimpulan
Freeport menargetkan produksi emas mencapai 31 ton pada tahun depan sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi perusahaan di pasar global. Dengan target produksi tembaga dan emas yang ambisius, perusahaan menunjukkan komitmen kuat untuk memulihkan dan meningkatkan kinerjanya setelah insiden longsoran material basah. Peningkatan produksi ini tidak hanya akan membawa keuntungan finansial, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekonomi lokal dan industri global. Dengan strategi yang jelas dan dukungan teknologi, Freeport siap mengukir prestasi baru di masa depan.