AdaApa – 08 Oktober 2026 | Sebanyak 15 kendaraan terlibat dalam kecelakaan beruntun di Jalan Tol Cipularang, tepatnya di KM 91+900 B arah Jakarta, setelah sebuah truk mengalami rem blong. Insiden tersebut menutup sementara lajur arah Jakarta dan mengakibatkan gangguan arus lalu lintas di sekitar lokasi.
Penanganan Cepat dan Upaya Evakuasi
Agus Susilo, senior manager of Jasamarga Metropolitan Tollroad’s representative office 3, explained that the Jasamarga Metropolitan Tollroad team together with the Jasamarga Tollroad Operator (JMTO) proceeded directly to the site after receiving the report.
Fokus utama tim adalah mengevakuasi korban luka dan mengurangi kepadatan kendaraan. Armada rescue, ambulance, dan derek dikerahkan lewat jalur berlawanan untuk mempercepat evakuasi. Semua kendaraan yang rusak dipindahkan ke pool Jatiluhur guna memperlancar pemulihan kondisi lalu lintas. Tidak ada korban jiwa; satu pengendara mengalami luka berat dan dibawa ke Rumah Sakit Abdul Radjak Purwakarta, sementara korban lain yang hanya mengalami luka ringan dirawat di lokasi.
Jasamarga issued an apology for the inconvenience experienced by road users during the handling process.
- 1 truk traktor head
- 2 kendaraan pikap
- 1 truk ringan
- 2 Toyota Hiace
- Honda Brio
- Mitsubishi Colt Diesel Box
- Chevrolet
- Toyota Innova
- Suzuki APV
- Mitsubishi pikap
- Toyota Calya
- Toyota Rush
- Chery
Jalur Penyelaan Darurat dan Imbauan Keselamatan
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Jasamarga telah menyiapkan jalur penyelamat darurat khusus kendaraan besar yang mengalami rem blong. Those emergency lanes are located at KM 116+800, KM 92+600, and KM 91+400 in the Jakarta direction.
Pihak pengelola mengimbau semua pengguna jalan untuk menjaga jarak aman, memantau kondisi lalu lintas, dan memastikan kendaraan dalam kondisi prima sebelum melanjutkan perjalanan. Selama penanganan, pengguna diminta mematuhi rambu dan arahan petugas di lapangan.
Risiko Tinggi di Turunan KM 90–100
Bagian tol Cipularang yang menghubungkan Bandung–Jakarta, khususnya antara KM 90 hingga KM 100, dikenal sebagai zona berbahaya dengan tingkat kerawanan yang sangat tinggi. Medan menurun terus–menerus dipadukan dengan tikungan tajam meningkatkan momentum kendaraan, terutama truk dan kendaraan berat, bahkan tanpa menambah gas.
Pengereman yang terus–menerus pada turunan ini dapat memicu panas berlebih pada tromol atau cakram, berpotensi menyebabkan rem blong. Karena volume kendaraan yang padat, wilayah ini sering menjadi titik kecelakaan massal (blackspot) di jaringan tol Indonesia.
Pengendara, terutama yang mengendarai kendaraan bertonase tinggi, disarankan untuk memeriksa sistem pengereman secara menyeluruh sebelum memasuki turunan tersebut dan selalu mengikuti petunjuk keselamatan yang ada.